Harga Batu Bara Loyo Lagi, Mulai Tersingkir Kekuatan Angin di Eropa

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara kembali terkoreksi. Penurunan ini justru terjadi di tengah potensi peningkatan permintaan China menjelang tahun baru Imlek, melemahnya pasokan India yang berpotensi meningkatkan impor, dan harga energi Eropa serta AS yang menguat.

Merujuk pada Refinitiv, harga batu bara ICE Newcastle kontrak Februari ditutup di posisi US$ 131,50 per ton atau melemah 2,01 % pada perdagangan Rabu (10/1/2024).

Meski terkoreksi, harga batu bara masih mampu bertahan di atas level psikologis US$ 130 per ton.

Penurunan harga terjadi seiring dengan produksi listrik di Eropa lebih banyak dihasilkan dari tenaga angin dibandingkan batu bara untuk pertama kalinya pada kuartal terakhir 2023. Hal ini menandai tonggak penting bagi upaya transisi energi regional.

Perusahaan utilitas di Eropa menghasilkan rekor 193 terawatt jam (TWh) listrik dari pembangkit listrik tenaga angin pada periode Oktober hingga Desember 2023 dibandingkan dengan 184 TWh dari pembangkit listrik tenaga batu bara, menurut data dari lembaga think tank Ember.

Beralihnya konsumsi energi Eropa pada energi baru terbarukan (EBT), menjadikan permintaan batu bara akan semakin menyusut. Penggunaan batu bara dapat semakin ditinggalkan seiring dengan pengembangan EBT yang lebih maju. Penyerapan Eropa yang menurun disinyalir turut menjadi faktor terkoreksinya harga.

Beralih ke Asia, National Coal Index menurun 17,54%, menjadi 155,09 poin per November 2023 dibanding tahun sebelumnya (year on year/yoy). Hal ini menandakan kuatnya pasokan batu bara India yang semakin mendekati sisi permintaan.

Melansir Energy World, India tercatat mengalami kenaikan produksi batu bara sebesar 38% menjadi 14,04 juta ton pada periode Desember 2023. Besarnya produksi India menjadi negara ini membatasi tingkat impornya, sehingga penurunan permintaan batu bara India akan membatasi laju kenaikan harga. 

Beralih ke China, negara konsumen batu bara terbesar dunia ini berpotensi mengalami lonjakan permintaan menjelang Tahun Baru Imlek pada Februari, menurut S&P Global Commodity Insights.

Tahun Baru China atau imlek biasanya akan mendorong tingkat belanja, konsumsi, dan pariwisata. Hal ini akan mendorong industri memaksimalkan produksinya untuk memenuhi permintaan.

Lonjakan produksi dari pelaku industri akan memacu permintaan energi yang semakin tinggi, sehingga China sebagai konsumen batu bara terbesar dunia dapat mendorong kenaikan harga.

Kendati demikian, nampaknya lonjakan harga masih belum terlihat pada perdagangan hari ini. Namun, sentimen ini dapat mendorong laju harga batu bara ke depan.

Melansir Reuters, tingginya permintaan tidak banyak mempengaruhi harga karena Indonesia dan Australia, dua negara pengirim bahan bakar terbesar yang digunakan terutama untuk menghasilkan listrik, mengalami peningkatan ekspor yang besar.

Melemahnya harga batu bara juga sejalan dengan ambruknya harga komoditas minyak mentah. Harga minyak brent melandai 1,2% sementara minyak WTI turun 1,3% pada perdagangan kemarin. https://documentsemua.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*