Bukan Cuma Ukraina, Warga Eropa Siap-Siap Hadapi Perang Vs Rusia

SHARE  

(FILES) In this file photo taken on May 09, 2022 Russian Yars intercontinental ballistic missile launchers parade through Red Square during the Victory Day military parade in central Moscow on May 9, 2022. - The world's number of operational atomic warheads increased in 2022, driven largely by Russia and China, a new report out on March 29, 2023 said as nuclear tensions have risen since the war in Ukraine. (Photo by Alexander NEMENOV / AFP) Foto: AFP/ALEXANDER NEMENOV

Jakarta, CNBC Indonesia РKetegangan Barat dan Rusia pascaserangan Moskow di Ukraina menimbulkan ketakutan baru bahwa perang meluas. Seorang Veteran Angkatan Darat Inggris, Robert Clark, bahkan meminta warga Inggris dan Eropa bersiap jika eskalasi langsung terjadi.

Dalam kolom di The Telegraph yang dirilis Senin (22/1/2024), Clark, yang bertugas di militer selama 15 tahun, menulis bahwa Inggris perlu memikirkan kembali ketergantungannya pada Amerika Serikat (AS) untuk membantu pertahanan di masa depan melawan Rusia di daratan Eropa.

Ia berpendapat bahwa era “keuntungan perdamaian” telah berakhir. Istilah ini dipopulerkan Mantan Presiden AS George H.W. Bush dan mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher setelah pembubaran Uni Soviet, dengan dugaan bahwa kini lebih banyak uang publik tersedia untuk keperluan lain ketika belanja pertahanan dikurangi.

PILIHAN REDAKSINetanyahu Tolak Kesepakatan Damai Baru di Gaza untuk Akhiri PerangKonflik Laut Merah Lagi-Lagi Makan Korban Baru: JermanArab Saudi Buka-bukaan soal Normalisasi Hubungan dengan Israel

Lalu, dalam tanggapannya melalui email kepada Newsweek, Clark menegaskan kembali bahwa peningkatan perekrutan militer, selain belanja pertahanan, merupakan isu penting bagi Inggris untuk menjadi lebih mandiri di era ketidakpastian ini.

“Sudah terdokumentasikan dengan baik bahwa generasi muda di AS dan Inggris tidak begitu tertarik pada pengabdian nasional atau perjalanan dan petualangan,” kata Clark.

“Oleh karena itu, tawaran dan kaitan (untuk rekrutmen) harus lebih selaras dengan harapan stabilitas keuangan, kemajuan karir dan peluang untuk bergerak secara horizontal dalam suatu organisasi. Kenaikan gaji yang lebih besar dibandingkan pekerjaan sektor publik lainnya adalah suatu keharusan.”

Selain perekrutan, Clark, yang ditugaskan di Irak dan Afghanistan, juga menekankan pentingnya mempertahankan jumlah anggota militer yang sudah ada.

Rusia dapat menyerang Moldova atau Georgia setelah mencapai kemenangan di Ukraina. Dari sana, Rusia bisa bergerak melawan negara-negara Baltik,” terangnya.

“Ketika pusat pengambilan keputusan di Washington bergeser ke arah timur untuk melawan China dalam perjuangan jangka panjang di Indo-Pasifik, sentimen yang muncul dari Washington adalah bahwa Eropa harus mampu menjaga urusan keamanannya sendiri. dengan bantuan minimal dari AS,” tulisnya.

“Mengingat perbedaan skala antara Rusia dan China, dan bahwa ekonomi kolektif NATO di Eropa jauh melebihi empat kali lipat ekonomi kolektif Rusia, maka ini bukanlah posisi yang tidak masuk akal untuk diambil.”

Clark kemudian merujuk pada pernyataan Rob Bauer, ketua Komite Militer NATO baru-baru ini, yang mengatakan bahwa warga sipil di negara-negara NATO harus bersiap menghadapi kemungkinan perang habis-habisan dengan Rusia dalam 20 tahun mendatang.

“NATO, karena NATO adalah sebuah aliansi keamanan, dimana seluruh anggotanya memiliki persepsi ancaman yang sama, bertindak lebih serempak, dan sering kali aliansi ini dibutuhkan tidak hanya untuk menjembatani kesenjangan yang ada di negara-negara yang tidak sejalan, namun juga sering kali menjadi platform bagi negara-negara tersebut. untuk bersatu dalam keselarasan dan kesatuan,” tambah Clark.

Lebih lanjut, Clark, yang juga Direktur Unit Pertahanan dan Keamanan di Civitas, ia menunjuk pada kemampuan Rusia untuk mempersenjatai kembali dan melakukan reindustrialisasi. Baginya, Barat tidak siap untuk merespons dan harus mulai merencanakan untuk memobilisasi perekonomian dan masyarakat mereka sebagai persiapan menghadapi konflik.

“Mobilisasi masyarakat (wajib militer) juga harus direncanakan jika AS dan Inggris berupaya mencegah konflik melalui kegagalan pencegahan militer konvensional,” katanya.

“Seperti yang dapat dilihat di Ukraina, tekanan yang sangat besar menimpa penduduk Ukraina dalam hal sumber daya manusia. Tak seorang pun ingin melihat wajib militer, namun sistem harus diterapkan untuk memastikan bahwa hal ini dapat dicapai jika diperlukan.”

“Saat ini tidak ada. Hanya di negara-negara Eropa yang berbatasan dengan Rusia https://mesinpencarinenas.com/yang mempunyai model yang memadai. Ini harus dipelajari,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*