Tom Lembong Wanti-Wanti Luhut Soal Harga Nikel

SHARE  

Tom Lembong. (Dok. Istimewa) Foto: Tom Lembong. (Dok. Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia – Tim nasional pemenangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN), mengingatkan pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk berhati-hati merespons anjloknya harga nikel dunia, yang membuat berbagai tambang nike tutup.

Hal ini disampaikan Co-Captain Timnas AMIN Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong, yang merespons pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tentang tak akan tutupnya tambang nikel di Indonesia, meski di dunia internasional, tren tambang nikel kini tengah gulung tikar sementara.

“Hati-hati berbicara terlalu dini ya,” kata Tom Lembong di On3 Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, dilansir Detikcom, seperti dikutip (11/2/2024).

Tom mengungkapkan alasannya mengingatkan pemerintah berhati-hati dalam merespons tren tersebut. Menurutnya, penurunan harga nikel masih akan terus berlanjut, dan ada kemungkinan harga nikel terus melemah sampai dua tahun ke depan.

Baca: Media Asing Sorot Proyek Kebanggaan Jokowi, Sebut Nama Capres Ini

“Jadi jangan kita merayakan terlalu cepat, terlalu dini,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia mewanti-wanti Luhut supaya berhati-hati merespons fenomena anjloknya harga komoditas nikel dunia. Menurutnya, pemerintah harus sedari dini mengeluarkan kebijakan antisipasi, untuk melindungi bisnis smelter ataupun tambang nikel itu sendiri.

“Hati-hati berbicara terlalu dini karena ini kisahnya belum selesai, masih ada beberapa tahun lagi di mana harga nikel akan turun terus melemah dengan konsekuensi bagi industri smelter maupun tambang nikel di Indonesia,” tuturnya.

Harga nikel LME (cash) telah merosot sebesar 45% sepanjang 2023 dan penurunan lebih lanjut diperkirakan kembali terjadi tahun ini dengan perkiraan median untuk harga rata-rata nikel LME akan turun 23%. Adapun prospek suram harga nikel didasari atas ekspektasi bahwa pasokan nikel akan melebihi permintaan sebesar 240.500 ton pada tahun ini dan sebanyak 204.000 ton pada 2025.

Baca: Luhut Tiba-Tiba Sebut PDIP-Ganjar Pranowo-Megawati, Ada Apa?

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan memastikan, perusahaan tambang nikel di Indonesia tidak akan tutup, meskipun banyak tambang nikel di berbagai negara yang tengah memasuki tren gulung tikar akibat harga komoditas itu yang tengah turun.

“Ya biar aja tambang dunia tutup asal kita gak ikut-ikutan,” ujar Luhut saat ditemui di Kantor Kemenko Marves, Jakarta, dikutip Minggu (11/2/2024).

Bangkrutnya sejumlah perusahaan tambang nikel, seperti di Australia, disebabkan harga komoditas yang dikenal sebagai bahan baku baterai mobil listrik itu tengah turun drastis. Pemicunya pasokannya yang berlebihan di tengah tren permintannya yang masih sedikit.

Indonesia dianggap sebagai biang kerok banjirnya produk nikel di dunia. Anggapan ini didasari dari banyaknya fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, membuat pasokan nikel RI membanjiri dunia.

Merespons anggapan itu, Luhut menganggap harga nikel yang saat ini terperosok tidak disebabkan oleh program hilirisasi nikel di Indonesia. Dia menilai, harga nikel harus dilihat dalam jangka panjang, setidaknya 10 tahun terakhir.

“Enggak ada juga (Indonesia jadi alasan harga nikel anjlok). Saya berkali-kali bilang kalau mau lihat itu harus 10 tahun. Pas lagi sekarang naik, sama saja seperti batu bara,” tuturnya.

Menurutnya, harga sebuah komoditas, tidak hanya nikel, termasuk batu bara dan komoditas lainnya, harus dilihat secara kumulatif dan dihitung rata-ratanya.

“Itu kan at the end cari equilibrium-nya. Dia kan cari anu sendiri. Apa saja komoditi itu kamu lihatnya enggak boleh dari setahun dua tahun harus 5-10 tahun. Harus dilihat kumulatif harganya. Kemudian melihat harga rata-ratanya,” tegas https://mesinpencarinenas.com/Luhut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*